Menu

Mode Gelap
Berikut 15 Titik Posko Mudik Satkorcab Banser Kota Surabaya PC GP Ansor Surabaya Gelar Kick Off Program Banser Surabaya Membangun Satkorcab Banser Kota Surabaya Ikuti Upacara Bela Negara Artikulasi Pemikiran Modern Atas Amaliah NU Banser Husada Satkorcab Surabaya Gelar Pengobatan Alternatif Gratis di Konang Bangkalan Patroli Baritim, Upaya Banser Maritim Surabaya Menjaga Kelestarian Lingkungan Kota Pahlawan

Opini

Antara Sarung dan Senapan: Benang Merah Santri, Pahlawan dan Pesantrenphobia Media Kekinian

badge-check


					Antara Sarung dan Senapan: Benang Merah Santri, Pahlawan dan Pesantrenphobia Media Kekinian Perbesar

Tidak lama berselang sebelum ditulisnya artikel ini (27/10/25), media tengah diguncangkan oleh polemik besar-besaran yang mempersoalkan tindak-tanduk di lingkungan pesantren. Media menghakimi sikap berlebihan penghormatan santri terhadap kiai. Badai dahsyat segera menerjang kapal besar pendidikan Islam klasik itu. Tune negatif dikemas lewat istilah feodal, dibarengi kecaman demi kecaman kepada kiai.

Kecamuk tersebut berangkat dari postingan program Xpose Uncensored yang berada di bawah naugan media televisi nasional Trans7. Program ini awalnya berkutat pada dunia selebritas, kemudian merambah kepada fenomena-fenomena unik di masyarakat, termasuk sosial. Tanpa diduga dan dikontrol wacana Xpose Uncensored merasuk ke wilayah-wilayah pribadi dan sensitif. Sampai pada episode di mana kamera Xpose Unconsored menyorot salah satu pondok pesantren (ponpes) besar di Kediri, Jawa Timur.

Tersebutlah nama ponpes Lirboyo, salah ponpes yang terbesar dan tertua di tanah Jawa. Saat ini Lirboyo dipimpin oleh Kiai Haji Anwar Manshur. Seorang alim yang disepuhkan dan tengah menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Timur dan masuk ke dalam jajaran Mustasyar Pengurus Besar NU. Program Trans7 lantas mengisahkan keseharian Kiai Anwar Manshur menggunakan nada-nada ejekan. Terekam di dalam kamera di mana sang kiai menerima amplop yang diberikan oleh para santri. Mereka menajamkan bilah ejekan dengan gerakan para santri yang berbaris dan berjalan jongkok di hadapan kiai yang duduk di atas kursi.

Berita pemojokan itu merupakan kelanjutan dari peristiwa satu bulan sebelumnya yaitu robohnya gedung ponpes Alkhoziny di Sidoarjo yang memakan korban jiwa puluhan santri. Ditengarai pembangunan ponpes melibatkan tenaga para santri. Seketika dunia pesantren menjadi ‘samsak’ netizen. Secara sepihak mereka menuduh para kiai telah memperalat santri-santrinya.

Amarah kalangan santri akhirnya mencapai ubun-ubun. Santri memakai segenap cara untuk membela para guru dan lembaga pendidikan yang telah membina mereka sedari kecil. Mulai dari boikot, demonstrasi sampai tulisan-tulisan opini bermunculan untuk menjadi senjata dan tameng. Benturan pun tidak dapat dihindari ketika media sosial turut ikut campur memperpanas kebencian netizen terhadap pesantren.

Oleh karenanya artikel populer ini bermaksud membongkar ruang-ruang sempit yang barangkali terabaikan oleh warga Nahdliyin. Sebab struktural NU paling bertanggung jawab untuk mengelola organisasi dan membina umat. Tulisan ini mencoba menerawang sosial kesejarahan santri dan perannya terhadap negeri. Disusulkan kepahlawan kaum santri dalam menjaga dan membentengi negara. Di bagian akhir dikaji perihal apa yang kiranya membuat pesantren dan kultur yang membersamainya justru terasa asing di zaman sekarang.

Kaum Santri dan Kenasionalan

Meminjam istilah Pierre Bourdie, kita dapat menyebut pesantren dengan apa yang dirinya sebut habitus keilmuan. Lembaga di mana ilmu pengetahuan menemukan habitatnya. Di pesantren para kiai dan ustadz tidak sekedar mengajar baca dan tulis sebagaimana pendidikan formal di sekolah. Pendidikan pemberian guru pesantren melangkah lebih jauh. Teks tidak lagi sekedar huruf, tetapi ada konteks d baliknya yang tentu mengandung sumur-sumur pengetahuan yang lebih dalam.

Kita bisa menyimak literas-literasi kelas dunia yang dijadikan bahan ajar para guru pesantren seperti termuat di dalam karya Martin van Bruinessen, Azyumardi Azra dan Zainul Milal Bizawie. Gelora keilmuan kiai tidak berhenti sampai di situ. Di dalam usaha Ahmad Ginanjar Sya’ban, ia sukses mencatat katalogisasi kitab karya ulama Indonesia. Artinya kiai pesantren pun tidak hanya berstatus konsumen ilmu, melainkan mereka pulalah yang memproduksi ilmu dalam wujud kitab (baca: manuskrip).

Alih-alih menulis kitab menggunakan bahasa Arab, kiai pesantren justru menorehkan kitab lewat bahasa lokal. Suatu gerakan yang disebut Kiai Abdurrahman Wahd (Gus Dur) pribumisasi Islam. Tindakan kiai pesantren ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman masyarakat Indonesia atas ajaran Islam. Laksana garis katulistiwa karya kiai pesantren tidak terkemuka di wilahayah Indoensia saja, tetapi melalang buana hingga ke negeri-negeri nan jauh seperti di Eropa dan Afrika. Di sana pemikiran kiai pesantren dijadikan referensi akademis.

Dari sini saja kita sudah melihat bagaimana pena-pena kiai pesantren ikut andil dalam membangun peradaban dunia. Apabila di tingkat internasional sudah diakui, apalagi di tingkat nasional. Jika kita menarik di masa awal Revolusi, maka kita akan mendengar di lingkaran-lingkaran diskusi para bapak bangsa membicarakan di manakah letak peran pesantren akan diposisikan.

Nama Soetomo dan Sutan Takdir Alisjabana paling aktif di dalam kajian ini. Soetomo dengan keyakinannya mengharuskan pesantren mengambil peran utama di dalam kebudayaan Indonesia. Sementara lawannya, Alisjabana, menolak gagasan Soetomo. Bagi Alisjabana pesantren merupakan ‘saudara tua’, maka sudah sepantasnya dia ditunjuk sebagai pembina atau pengawas kebudayaan. Dua pandangan ini akhirnya dijodohkan oleh Ajib Rosidi yang menyatakan seharusnya pesantren berada di kedua posisi tersebut. Perdebatan itu menegaskan bahwa di mata bapak bangsa sendiri pesantren adalah lembaga yang sangat diperhitungkan.

Desantrisasi Pahlawan Indonesia

Harmoni perdebatan kebudayaan pesantren di atas lantas diporak-porandakan di masa kepemimpinan Orde Baru. Secara sadar dan nyata kalangan pesantren sengaja disingkirkan dari pusat-pusat kebudayaan. Peran santri terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia pun digeser posisinya oleh militer. Jadi, timbul narasi bahwa kemerdekaan negara ini diraih lewat senapan, peluru dan bom ala militer. Bambu runcing dan golok milik santri adalah senjata-senjata yang terpinggirkan. Tetesan peluh dan darah santri diatasnamakan kematian militer. Dampaknya kita dapat melihat di sekolah-sekolah, di lembaga negeri dan swasta, di ruang publik terbuka, di momentum peringatan Hari Kemerdekaan dan Hari Pahlawan, kita akan kesulitan menemukan kostum peci dan sarung, yang ada justru busana-busana semu bermotif loreng.

Desantrisasi juga diberlakukan terhadap tokoh-tokoh nasional seperti Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. Sampai detik ini ditanamkan paham jika keduanya adalah orang-orang yang murni mendapatkan pendidikan Barat saja. Padahal mereka, baik Tan Malaka maupun Sutan Sjahrir, adalah orang-orang yang di usia belianya memakai sarung dan duduk melingkar belajar kitab-kitab kuning di hadapan guru-guru Surau, saudara jauh pesantren di Sumatera Barat. Kita bisa menilik karya Djohan Sjahroezah, di mana ia mengabadikan pertemuan antara Kiai Hasyim Asya’ri dan Tan Malaka di ponpes Tebuireng guna membahas pondasi untuk bangsa ke depannya.

Desantrisasi adalah proses pelepasan atau pemudaran peran santri terhadap suatu fenomena. Sejarah sebagai bidang yang vital, desantrisasi atasnya harus segera ditangani oleh santri. Siapapun boleh mengaku punya andil kepada perjalanan perjuangan bangsa, tetapi yang dipercaya adalah siapa yang memiliki dan memegang data, tidak hanya omong kosong. Maka santri harus telaten dalam menggali, mengelola dan menyajikan datanya sendiri.

Pesantrenphobia dan Media Kekinian

Kembali ke muka, artikel ini ditulis atas kegelisahan kepada mata-mata sinis yang memandang negatif dunia pesantren. Teknologi komunikasi dan informasi yang begitu canggih sungguh mempermudah manusia, tetapi bersamaan itu pula dapat menjerumuskan. Postingan dan akses begitu cepat, sehingga media seakan-akan memerintahkan agar jemari kita bergerak cepat, lebih cepat dari proses akal sehat berpikir, atau malahan lebih cepat dari aliran peredaran darah.

Trans7 bukannya tidak tahu jika siaran mereka akan menimbulkan gejolak. Sebagai platform media besar mereka pasti tahu dan memang sudah mengkonsep munculnya gejolak. Ya, tepat sekali, boikot dan demonstrasi santri sudah menjadi skenario mereka. Justru itulah yang dijadikan bahan bakar untuk menanamkan kebencian di lubuk netizen dan menyeretnya ke pihak mereka. Dari situ muncul wacana jika kaum sarungan anti kritik dan enggan menerima fakta.

Trans7 dan Xpose Uncensored hanyalah satu dari sekian kasus peggunaan media sebagai alat tudingan buruk kepada pesantren. Ponpes Alkhoziny dan berita-berita asusila yang sesekali waktu masuk ke dalam gawai kita merupakan kasus-kasus lain yang tak bisa diabaikan. Pesantrenphobia telah menyelubung dengan bebas dan tanpa rem. Pesantrenphobia bisa menghasut siapapun, jika tidak didampangi literasi positif tentang pesantren.

Maka santri harus melek teknologi media massa. Soal teknologi media tidak dipungkiri kaum memang tertinggal jauh. Namun, bukan berarti tidak bisa mengejar. Barangkali kita bisa memulai dari akun-akun kaum sarungan yang bercentang biru. Buatlah konten sebagus dan sebaik mungkin yang mengembalikan dan membangun nuansa luhur pesantren. Ditambah mengkampanyekan karya-karya agung ulama pesantren. Kejeniusan mereka tidak kalah dibandingkan ulama Timur Tengah dan akademisi Barat sekali pun. Konten yang tidak sekedar memberitahu dan mengajarkan, tetapi juga yang memahamkan.

Penulis : Anis BahtiyarKader PAC GP Ansor Kecamatan Wonokromo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Galih Dien Fu'adi

    Keren mas tulisannya🙌. Di sini kita sadar di tengah-tengah pertempuran epistemologi yang sangat dahsyat antara, feodal vs liberal, konservatif vs progresif hingga modern vs tradisional menjadikan kita khususnya kaum santri untuk lebih beradaptasi dengan kemajuan zaman. Ada salah satu istilah yang saya sukai yakni; Post-Tradisionalisme yang mengistilahkan fenomena santri masa kini yang membela mati-matian bahkan secara ekstrim nilai-nilai tradisional khususnya di kalangan pesantren. Memang sudah waktunya kita berbenah diri untuk masa depan umumnya umat islam dan khususnya santri.

    Balas
semua sudah ditampilkan
Baca Lainnya

Artikulasi Pemikiran Modern Atas Amaliah NU

18 Desember 2025 - 19:44 WIB

Gerakan Pemuda Ansor dan Surabaya Emas 2045 

12 November 2025 - 03:23 WIB

Trending di Ansor