Dua puluh tahun ke depan negeri ini hendak mencapai suatu cita-cita berfrasa “Indonesia Emas 2045”. Tulisan ini bukan berlagak laksana Prabu Jayabaya untuk meramalkan masa depan bangsa, melainkan mendedah ihwal-ihwal apa saja yang dalam kurun dua puluh tahun yang mesti dibenahi bersama. Tugas yang bukan hanya ditanggungkan kepada pemerintah atau pemangku kepentingan, tetapi menjadi pekerjaan rumah bagi siapa-siapa saja yang mengaku bertumpah darah Indonesia..
Demam topik Indonesia Emas 2045 telah mendarat dan sering terbaca di kolom-kolom komentar media sosial. Terlepas dari tune positif dan tune negatif yang menyertainya, Indonesia Emas 2045 menjadi buah bibir dan buah jari masyarakat. Angka 2045 menunjukan dimulainya abad baru bagi negara kepulauan ini. Wilayah negeri yang begitu luas mustahil cukup dimuat di dalam satu tulisan singkat ini. Oleh karena itu tulisan ini akan dipersempit ke dalam ruang kota Surabaya. Selain supaya lebih fokus, pilihan ini ditetapkan untuk memaparkan kearifan-kearifan lokal di kota terbesar kedua setelah Jakarta ini. Kearifan lokal diharapkan dapat berfungsi sebagai salah satu pondasi Indonesia Emas 2045, bukan komposisi karena disadari jika lokalitas setiap daerah berbeda dan tidak menutup kemungkinan justru berlawanan.

Letak geografis Surabaya menjadikannya wilayah sentral dan diperhitungkan dari masa ke masa. Berada di tepi pesisir utara pulau Jawa menjadikan Surabaya tempat singgah pada lalu-lintas koloni-koloni dagang dari negeri-negeri jauh seperti India, Cina, Arab dan Eropa. Silih berganti mereka melabuhkan kapal-kapal dagang di Surabaya. Bangsa-bangsa asing itu nyatanya tidak hanya menukarkan komoditi-komoditi perniagaan utama mereka. Akan tetapi, mereka juga menawarkan identitas bangsanya masing-masing, mulai bahasa, aksara, busana, kesenian, tata kelola politik hingga agama. Kita dapat membaca informasi ini dari buku-buku sejarah kemaritiman. Bagaimana daerah-daerah yang memiliki pantai pelabuhan memainkan peran signifikan di dalam relung peradaban bangsa.
Bisa dibilang Surabaya termasuk salah satu kota kosmopolitan terbaik se Asia Tenggara. Saat ini kita dapat melihat kota ini dipenuhi warga-warga dari berbagai asal daerah dan etnis. Kecerdikan lokal Surabaya ialah meskipun berasal dari daerah, etnis dan budaya yang berbeda, saat masuk ke Surabaya, para penduduk itu memakai bahasa Jawa “Suroboyoan” dalam aktifitas sehari-hari. Hal ini tentu berbeda dengan kasus Jakarta yang mana menggunakan bahasa Indonesia yang sudah menjadi bahasa persatuan nasional. Artinya, meskipun digempur dengan berbagai budaya asing, Surabaya tetap mampu mempertahankan ciri khas kebahasaannya.
Semakin tahun tensi jumlah penduduk Surabaya semakin meningkat, dengan kata lain ruang kota semakin sesak dan problematika perkotaan semakin mendulang dan kompleks. Kemacetan jalan menjadi konsumsi sehari-hari penduduk, apalagi di musim penghujan penduduk harus bersiap menderap air bah di hampir seluruh sisi kota. Pelanggaran pidana dan perdata seakan tidak pernah absen dari pemberitaan media. Fenomena sosial hilir-mudik melewati indera penglihatan dan pendengaran warga Surabaya. Ketimpangan pendidikan dan ekonomi merupakan hal yang tak ternafikan.
Bermacam masalah tidak akan rampung jika hanya dibebankan kepada instansi pemerintah daerah. Penyelesaian atasnya harus ditangani oleh segenap warga. Tidak peduli siapa pun dia, apa pun latar belakangnya, dia harus punya andil di dalam kemajuan dan kesejahteraan penduduk kota. Persilangan pendapat merupakan sesuatu yang lumrah, maka diperlukan duduk bersama untuk berdiskusi. Kalangan yang paling diandanlkan ialah kawula muda-mudi. Sebab pemikiran segar dan semangat membara menjadi bahan bakar untuk menyongsong masa depan Surabaya.
Oleh karenanya, Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya (selanjutnya ditulis Ansor Surabaya) hadir untuk mengambil peran penting. Ansor Surabaya sejak puluhan tahun lalu tidak pernah menanggalkan diri dalam pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan terhadap sosial-keagamaan, sosial-pendidikan dan sosial-kebudayaan merupakan wadah bagi aksi Ansor Surabaya sebagai tanggung jawab moral untuk kota tempat didirikannya Nahdlatul Ulama ini.
Ansor Surabaya sudah menyebar dan aktif di sebagian besar kecamatan dan kelurahan se-kota Surabaya. Berkali-kali pengkaderan diagendakan demi mencetak kader-kader muda yang tidak sekedar cinta kepada ajaran agama Islam, tetapi cinta terhadap tanah-air, bangsa, negara, dan yang tak terlupakan, kepada Surabaya sendiri. Ansor Surabaya muncul tidak sekedar untuk mengawal ajaran Islam Aswaja. Lebih dari itu, Ansor Surabaya siap menjaga lestarinya empat pilar kebangsaan, nilai dan norma tradisi masyarakat, serta yang terbaru, menangani perkembangan teknologi.
Surabaya memiliki warisan masa lalu yang melimpah. Warisan berupa benda maupun tak benda. Bangunan dengan arsitektur Eropa dapat ditemui di beberapa titik kota. Saat ini bangunan peninggalan kolonial Belanda itu dialihfungsikan sebagai gedung pemerintahan, rumah sakit dan cagar budaya. Warisan dari masa klasik (Islam) pun tidak kalah melimpah, mulai perkampungan dan makam Ampeldenta-Botoputih di sisi utara (kecamatan Semampir), keraton, alun-alun dan masjid kesultanan Surapringga (nama kuna Surabaya) di sisi tengah (kecamatan Bubutan), dan Keramat Bungkul di sisi selatan (kecamatan Wonokromo). Di zaman Hindu-Buddha ada kecamatan Krembangan dan kecamatan Karangpilang yang meninggalkan jejak sejarah panjang karena memberi peran yang begitu besar kepada dua raja pendiri kerajaan besar di Jawa, yaitu Airlangga (pendiri Kahuripan) dan Kertarajasa (pendiri Majapahit). Informasi ini dapat dikupas di dalam karya epigrafis Boechari.
Belum lagi warisan tak benda seperti kesenian Ludruk dan tari Remo yang rutin diselenggarkan di Gedung Kesenian Cak Durasim, lembaga pendidikan pesantren tua, serta catatan kelahiran dan kehadiran para pahlawan Revolusi yang riwayatnya terekam di kota ini. Sentuhan kultur Cina juga tidak kalah menarik. Kawasan pasar malam Pecinan Kya-kya di kecamatan Pabean Cantikan telah berperan sebagai taman hiburan dan taman ekonomi penduduk selama puluhan tahun. Keturunan Arab pun memainkan monopoli dagang yang berpusat di kampung Ampel. Namun, meskipun datang dari etnis dari luar Indonesia, mereka tetap terpengaruh kultur Jawa pula. Maka, Ansor Surabaya yang bertugas tetap melindungi kekokohan tancapan panji-panji kebangsaan di dalam dinamika sosial ini.
Pada 12 November 2025 pengurus baru Pimpinan Cabang (PC) Ansor Surabaya periode 2025-2029 dilantik. Di bawah kepemimpinan Achnaf Al Asbani, Ansor Surabaya siap mengawal pemerintah, pemangku kepentingan dan masyarakat luas dalam menyongsong Surabaya Emas 2045. Resepsi hari pelantikan Ansor Surabaya diawali dengan Kirab Panji Ansor. Rute kirab tersebut yaitu: Nul Kilometerpunt van Oost-Java, Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, Hotel Yamato dan Stadhuis te Surabaya. Lokasi terakhir merupakan tempat pengambilan ikrar pengurus baru. Malam inaugurasi ini menjadi gerbang untuk Ansor Surabaya memasuki tahap lanjut dari Surabaya Emas 2045.
Di sini akan ditafsirkan mengapa Ansor Surabaya memilih titik-titik di atas sebagai rute kirab. Lokasi pertama, Nul Kilometerpunt van Oost-Java, merupakan halaman kantor Gubernur Surabaya di Jalan Pahlawan. Di dalam manuskrip-manuskrip tentang Surabaya, bangunan tersebut dahulu merupakan keraton dari kesultanan Surapringga. Hal ini didukung laporan arsiparis Belanda, yang menetapkan gedung tersebut sebagai kantor kadipaten Surabaya. Taman luas di depannya (Tugu Pahlawan) merupakan alun-alun zaman klasik, dan masjid tua di seberangnya adalah masjid yang diduga kuat didirikan oleh Raden Jayalengkara di awal abad 1600an.
Lokasi kedua, Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, tidak diragukan adalah monumen paling bersejarah bagi Nahdlatul Ulama (NU). Di gedung ini lah titik dimulainya NU sejak 1926 sebelum menyebar ke seluruh penjuru negeri. Hoofdbestuur menjadi saksi bisu perjuangan para pendiri NU dan pendiri bangsa dalam memperjuangkan negara yang hendak merdeka kala itu. Lokasi ketiga, Hotel Yamato, memori tak terlupakan tentang dirobeknya bendera biru dari bendera merah-putih pada 19 September 1945. Pelaksanaan inaugurasi yang berdekatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November merupakan alasan bagi Ansor Surabaya berziarah ke bagunan momental itu serta mengenang perjuangan heroik di baliknya.
Disimak sekilas dapat dipahami jika Ansor Surabaya mengiring segenap kadernya untuk tidak lupa akan sejarah. Peristiwa-peristiwa yang disebut tadi merupakan sejarah lokal Surabaya, yang pada sesi berikutnya menyumbangkan dampak besar dalam skala nasional. Sejarah lokal adalah bagian dari kearifan lokal yang telah diterangkan di muka. Sehingga membuka tabir kearifan lokal tidak bisa tidak harus mendalami sejarah lokal. Merawat sejarah bukan bermakna “gagal move on”, tetapi melalui sejarah lah manusia dapat memetik pelajaran yang bermanfaat di masa kini, lalu dijadikan bahan baku untuk membangun masa depan.
Begitu pula visi-misi Ansor Surabaya. Rute pertama menyimbolkan keagungan Surabaya di masa lalu. Masa di mana bangsa-bangsa Nusantara (Jawa dan Madura) berdialog dan bertukar kebudayaan dengan bangsa asing. Di sini Ansor Surabaya belajar menjadi pemuda moderat, bersedia menerima perbedaan antarinsan, tolong menolong bahu-membahu membangun tanah air. Rute kedua merupakan bentuk penghormatan Ansor Surabaya kepada ‘sang bapak’. Atas jasa para pendiri bangsalah kita bisa menghirup udara kemerdekaan. Meskipun istilah ‘merdeka’ sampai detik ini terus-menerus berusaha direfleksikan supaya benar-benar menjadi bangsa merdeka. Rute ketiga, perobekan kain biru pada bendera Belanda bukan berarti Ansor Surabaya anti asing, tetapi sebagai isyarat bahwa Indonesia harus menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri. Indonesia tidak boleh condong atau malahan dikontrol bangsa mana pun.
Sampailah pada rute terakhir, Stadhuis te Surabaya (Balai Kota Surabaya), di mana Ansor diambil ikrarnya supaya bersedia secara sukarela mengabdikan diri kepada tanah air, bangsa, negara dan agama. Sesungguhnya pengambilan ikrar oleh pengurus PC Ansor Surabaya adalah perwakilan bagi seluruh kader Ansor se-kota Surabaya. Artinya, tugas organisasi dan pengabdian masyarakat tidak berputar pada lingkaran pengurus PC, tetapi mengalir sampai bermuara pada tingkat kecamatan, kelurahan hingga di setiap individu anak muda NU Surabaya.
Surabaya Emas 2045 tidak perlu menunggu instruksi pemerintah, tidak butuh menanti asupan tangan pemangku kepentingan, sebab ia hanya dimulai dari satu titik, yaitu kesadaran personal anak muda Surabaya. Setiap pemuda memiliki bekal kapasitas dan kapabilitas di bidangnya masing-masing. Tinggal dirinya bersedia atau tidak mengamalkannya. Pengamalan yang tidak sekedar memuaskan hasrat pribadi, tetapi menghibahkan dampak positif bagi segenap masyarakat Surabaya.
Sebagai penutup, tulisan ini hanya omong kosong jika tidak ditanggapi dan dilaksanakan dengan serius Tulisan ini tidak lebih sebatas uraian kata hitam di atas putih apabila anak muda NU berorganisasi hanya untuk memenuhi kepentingan personal atau golongan. Anak muda NU memiliki musuh yang nyata, jadi tidaklah pantas jika menyibukan diri dengan memusuhi sesama saudara, sebangsa, setanah air. Siapa pun yang berniat dan bermaksud buruk kepada masyarakat dan bangsa ini, maka dialah musuh kita. Semoga Ansor Surabaya di tahun-tahun mendatang semakin cemerlang selayak cemerlangnya emas. Karena tiada cara lain untuk menggapai Indonesia-Surabaya Emas 2045, selain terlebih dahulu diri kita sendiri yang menjadi ‘emas’.
Sekian, Salam hormat !!
Penulis: Anis Bahtiyar (Kader PAC GP Ansor Kecamatan Wonokromo)










